Soimah Anggun Jadi Ibu Mempelai, 6 Gaya Adat Jawa yang Curi Perhatian Pernikahan putra pertama Soimah Pancawati, Aksa Uyun Dananjaya, menjadi salah satu kabar hiburan yang ramai dibicarakan publik. Bukan hanya karena momen haru saat Aksa resmi menikahi Yosika Ayumi, tetapi juga karena penampilan Soimah sebagai ibu mempelai pria yang dinilai sangat menjaga pakem adat Jawa. Acara akad nikah digelar pada Jumat, 8 Mei 2026, di Pendopo Tulungo, Bantul, Yogyakarta, dengan suasana tradisional yang kuat dan penuh keterlibatan keluarga besar.
Kebaya, Sanggul, dan Riasan Jadi Perhatian Utama
Penampilan Soimah dalam rangkaian pernikahan anak sulungnya langsung menarik perhatian karena terlihat selaras dengan adat Jawa. Ia tidak sekadar hadir sebagai ibu mempelai, tetapi juga tampil sebagai figur keluarga yang membawa wibawa, kehangatan, dan kecintaan pada budaya. Pilihan busana, tata rambut, aksesori, serta riasan wajahnya menunjukkan bahwa acara keluarga tersebut disiapkan dengan sentuhan tradisi yang matang.
Soimah memang dikenal dekat dengan seni Jawa. Karena itu, saat ia tampil dalam balutan kebaya, kain tradisional, sanggul rapi, dan hiasan melati, publik melihatnya sebagai gaya yang terasa wajar, bukan tempelan untuk acara sesaat. Beberapa sorotan mengenai penampilan Soimah menyebut ada enam detail yang menonjol, mulai dari kebaya beludru, kain bernuansa gelap, kebaya brokat tembaga, sanggul Jawa, melati, hingga riasan wajah yang lembut.
1. Kebaya Beludru Klasik yang Menegaskan Wibawa Ibu Mempelai
Kebaya beludru menjadi salah satu gaya yang paling banyak dibicarakan dari penampilan Soimah. Bahan beludru memiliki kesan resmi, tegas, dan berkelas, sehingga sangat cocok dipakai dalam acara adat yang bersifat sakral. Pada acara pernikahan anak pertama, pilihan busana seperti ini membuat Soimah terlihat anggun tanpa harus tampil berlebihan.
Kebaya beludru yang dikenakan Soimah disebut memiliki detail bordir keemasan pada bagian depan. Sentuhan emas memberi kesan megah, tetapi tetap berada dalam batas elegan khas busana Jawa. Warna gelap pada beludru membuat bentuk kebaya tampak lebih tenang, sementara detail bordir memberi titik perhatian yang pas di area dada dan badan.
Potongan Kebaya yang Rapi Membentuk Kesan Tegas
Potongan kebaya yang pas di tubuh menjadi bagian penting dari gaya Soimah. Dalam busana adat Jawa, kerapian potongan sering kali memberi kesan lebih kuat daripada ornamen yang terlalu ramai. Soimah terlihat memahami hal itu dengan memilih kebaya yang mengikuti bentuk tubuh secara sopan dan tertata.
Bagian bahu yang tampak tegas juga membuat penampilannya lebih berwibawa. Sebagai ibu mempelai pria, Soimah berada pada posisi yang sering menjadi pusat perhatian tamu. Gaya seperti ini membuatnya tampak siap menjalani prosesi keluarga dengan sikap tenang, tetapi tetap menyimpan rasa haru.
2. Kain Tradisional Bernuansa Gelap yang Membuat Tampilan Lebih Teduh
Kebaya beludru Soimah dipadukan dengan kain tradisional bermotif klasik. Kombinasi kebaya dan kain menjadi bagian utama dari busana perempuan Jawa dalam acara resmi. Kain bukan hanya pelengkap, melainkan unsur yang menentukan keseluruhan tampilan, mulai dari kesopanan, keluwesan gerak, hingga keseimbangan warna.
Kain bernuansa gelap memberi kesan teduh dan tidak mencuri perhatian dari pengantin. Ini penting karena dalam acara pernikahan, ibu mempelai tetap harus tampil pantas dan menonjol sebagai keluarga inti, tetapi tidak boleh mengalahkan sorotan utama kepada pasangan pengantin. Pilihan kain seperti ini menunjukkan selera yang matang.
Motif Klasik Menjaga Nuansa Adat Tetap Terasa
Motif kain klasik memberi sentuhan adat yang kuat. Dalam acara Jawa, motif kain sering dipilih dengan pertimbangan suasana acara, kedudukan pemakai, serta keselarasan dengan busana keluarga. Pada penampilan Soimah, kain tradisional tersebut terlihat menyatu dengan kebaya beludru sehingga tidak ada bagian yang terasa saling berebut perhatian.
Gaya ini juga memperlihatkan bahwa busana adat tidak harus selalu hadir dengan warna mencolok. Warna gelap justru memberi ruang bagi detail lain untuk terlihat, seperti bordir, aksesori, dan tata rambut. Hasilnya, Soimah tampil sebagai ibu mempelai yang anggun, rapi, dan tetap dekat dengan akar tradisi Jawa.
3. Kebaya Brokat Tembaga yang Hangat dan Berkelas
Selain kebaya beludru, Soimah juga disorot karena mengenakan kebaya brokat berwarna tembaga atau terracotta. Warna ini memberi kesan hangat, matang, dan mewah. Dalam acara keluarga yang penuh rasa haru, warna tembaga dapat menghadirkan tampilan yang lebih lembut dibanding warna gelap, tetapi tetap terlihat resmi.
Brokat sendiri identik dengan busana perempuan dalam acara besar. Detail pada bahan brokat memberi tekstur yang terlihat indah saat terkena cahaya. Ketika dipakai oleh Soimah, kebaya brokat tersebut memperlihatkan sisi yang lebih lembut, tetapi tidak kehilangan kesan kuat sebagai ibu mempelai.
Payet dan Bordir Memberi Kilau Secukupnya
Detail payet dan bordir pada kebaya brokat membuat tampilan Soimah terlihat hidup. Namun, hal yang menarik adalah kilau tersebut tidak terlihat berlebihan. Penempatan ornamen yang pas membuat busana tetap enak dilihat dari dekat maupun dari kejauhan.
Gaya ini cocok dengan suasana rangkaian pernikahan yang berlangsung meriah. Setelah akad nikah, keluarga Soimah juga menggelar acara ngunduh mantu pada 9 Mei 2026. Rangkaian tersebut disebut berlangsung megah, bahkan menghadirkan banyak tamu dari kalangan artis dan tokoh publik.
4. Sanggul Jawa yang Menjaga Kesan Anggun
Tata rambut Soimah menjadi elemen yang tidak kalah penting. Sanggul klasik Jawa membuat penampilannya terlihat rapi, formal, dan sangat sesuai dengan kebaya. Dalam busana adat, rambut yang ditata sanggul memberi kesan siap mengikuti prosesi resmi, terutama ketika acara melibatkan keluarga besar dan tamu penting.
Sanggul yang dipakai Soimah tampak tidak berlebihan. Bentuknya rapi, tidak terlalu tinggi, dan tetap menyatu dengan wajah serta busana. Gaya seperti ini membuat wajah terlihat lebih terbuka, sehingga ekspresi haru dan bahagia Soimah saat mendampingi Aksa mudah terlihat.
Sanggul Membuat Seluruh Busana Terlihat Selesai
Tanpa tata rambut yang tepat, kebaya dan kain tradisional sering terasa belum lengkap. Pada penampilan Soimah, sanggul menjadi pengikat seluruh gaya. Kebaya, kain, aksesori, dan riasan wajah terlihat berada dalam satu irama visual yang sama.
Sanggul juga memberi ruang bagi aksesori lain seperti melati untuk tampil lebih jelas. Pada acara adat Jawa, detail kecil seperti ini sering menjadi pembeda antara gaya biasa dan gaya yang benar benar dipersiapkan dengan cermat.
5. Hiasan Melati yang Memberi Sentuhan Adat Lebih Kuat
Melati menjadi salah satu detail yang langsung menguatkan kesan adat Jawa pada penampilan Soimah. Bunga ini sering hadir dalam prosesi pernikahan Jawa karena memberi kesan suci, lembut, dan anggun. Saat disematkan pada sanggul, melati membuat tata rambut terlihat lebih hidup tanpa harus menggunakan aksesori besar.
Pada gaya Soimah, melati tidak tampil sebagai hiasan yang berlebihan. Letaknya mengikuti bentuk sanggul dan mempermanis sisi kepala. Detail ini membuat penampilannya semakin dekat dengan pakem pengantin Jawa, meski posisinya bukan sebagai pengantin, melainkan ibu mempelai.
Melati Menjadi Penanda Kehalusan Gaya Jawa
Gaya Jawa sering kuat justru lewat detail yang halus. Melati adalah salah satunya. Kehadirannya kecil, tetapi langsung terbaca oleh publik sebagai bagian dari adat. Pada Soimah, melati membuat penampilannya terasa lebih lembut, terutama ketika dipadukan dengan kebaya berwarna kuat dan kain bermotif klasik.
Detail seperti ini juga memperlihatkan kecermatan tim busana dan rias. Mereka tidak hanya menata Soimah agar terlihat cantik, tetapi juga menjaga agar setiap unsur tetap memiliki rasa tradisional yang jelas.
6. Riasan Wajah Lembut yang Tidak Mengalahkan Busana
Riasan wajah Soimah terlihat halus, bersih, dan tetap kuat untuk acara resmi. Bagian mata dibuat tegas, sementara warna bibir dan kulit wajah tampak seimbang. Pilihan riasan seperti ini penting karena busana adat Jawa biasanya sudah memiliki banyak detail, sehingga makeup yang terlalu berat justru bisa membuat tampilan terasa penuh.
Riasan Soimah juga memperlihatkan perpaduan antara sentuhan modern dan adat. Wajahnya tampak segar, tetapi tidak meninggalkan kesan klasik. Hasil akhirnya membuat ia terlihat siap berada di depan banyak tamu, kamera, dan keluarga besar selama rangkaian acara berlangsung.
Ekspresi Haru Membuat Penampilan Terasa Lebih Hangat
Momen akad nikah Aksa dan Yosika juga memperlihatkan sisi emosional Soimah sebagai ibu. Ia terlihat terharu saat putra sulungnya resmi menyandang status suami. DetikHot mencatat bahwa Aksa mengucapkan ijab kabul dengan lancar, sementara Soimah dan suaminya, Herwan Prandoko atau Koko, tampak haru menyaksikan prosesi tersebut.
Ekspresi haru itulah yang membuat penampilan Soimah tidak terasa sekadar soal busana. Kebaya, sanggul, melati, dan riasan wajah menjadi semakin hidup karena dipakai dalam momen keluarga yang sangat personal. Publik melihat bukan hanya gaya seorang artis, tetapi juga perasaan seorang ibu yang melepas anak pertamanya menuju kehidupan rumah tangga.
Rangkaian Acara Membuat Gaya Soimah Makin Banyak Dibahas
Pernikahan Aksa dan Yosika tidak berhenti pada akad nikah. Acara ngunduh mantu yang digelar setelahnya ikut menjadi perbincangan karena berlangsung meriah. DetikHot melaporkan rangkaian tersebut menghadirkan kirab, penampilan sendratari, serta banyak tamu publik, mulai dari artis hingga tokoh penting.
Dalam salah satu keterangan yang beredar, acara disebut berlangsung selama tiga hari tiga malam, dengan total enam busana dan dua baju dalam satu hari. Pernyataan itu membuat publik makin tertarik melihat bagaimana Soimah dan keluarga menjaga tampilan selama seluruh rangkaian acara.
Pendopo Tulungo Jadi Latar yang Memperkuat Nuansa Jawa
Lokasi acara juga ikut memberi pengaruh besar pada kesan visual pernikahan. Pendopo Tulungo bukan tempat biasa bagi keluarga Soimah. Aksa disebut menjabat sebagai Direktur Pendopo Tulungo, tempat seni dan pernikahan milik keluarga yang berada di Bantul. Bangunan tersebut juga disebut berfungsi sebagai wadah kegiatan seni, acara budaya, dan lokasi pernikahan.
Dengan latar pendopo yang lekat dengan budaya Jawa, gaya Soimah terasa semakin menyatu. Kebaya beludru, kain tradisional, sanggul, dan melati terlihat berada di tempat yang tepat. Bukan hanya busananya yang berbicara, tetapi juga ruang acara yang ikut memperkuat suasana adat.
Sorotan Publik pada Ibu Mempelai yang Setia pada Pakem Jawa
Penampilan Soimah mendapat perhatian karena ia tidak meninggalkan ciri khasnya sebagai seniman yang dekat dengan tradisi. Di tengah banyak pilihan busana modern untuk acara besar, Soimah memilih tetap berada dalam jalur adat Jawa, tetapi dengan sentuhan yang rapi, segar, dan berkelas.
Enam gaya yang menonjol dari penampilannya memperlihatkan satu garis yang sama, yakni keselarasan. Kebaya beludru memberi wibawa, kain gelap memberi keteduhan, brokat tembaga memberi rasa hangat, sanggul memberi kerapian, melati memberi sentuhan adat, dan riasan lembut menjaga wajah tetap segar. Dalam acara pernikahan putra pertama, Soimah tampil bukan hanya sebagai artis, tetapi sebagai ibu mempelai yang menghormati tradisi keluarga.





