Rencana ekspansi Transjakarta mulai memasuki babak baru setelah Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan dukungan terhadap perluasan layanan transportasi ke sektor laut dan udara. Gagasan tersebut diajukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui perubahan ruang lingkup usaha PT Transportasi Jakarta.
Dudy menilai pengembangan konektivitas antarmoda dapat membantu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat. Pemerintah pusat juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah daerah dan badan usaha milik negara untuk mendukung pengembangan transportasi.
Rencana ekspansi Transjakarta tersebut bukan berarti perusahaan akan langsung menjalankan layanan penerbangan atau pelayaran komersial. Saat ini, perluasan tersebut masih berkaitan dengan pembahasan regulasi dan pengembangan model usaha.
Ekspansi Transjakarta masuk dalam rancangan perubahan badan usaha
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan rencana perluasan ruang lingkup usaha PT Transportasi Jakarta dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta pada 1 Oktober 2026.
Rencana tersebut tercantum dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah PT Transportasi Jakarta. Ruang lingkup usaha Transjakarta nantinya tidak hanya mencakup transportasi darat.
Pemprov DKI mengusulkan agar perusahaan dapat menangani layanan angkutan perairan dan udara. Selain itu, Transjakarta juga dapat bergerak dalam penyediaan dan pengelolaan sarana serta prasarana transportasi.
Perluasan tersebut juga mencakup pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan sistem pendukung layanan angkutan. Dengan demikian, konsepnya lebih luas daripada sekadar menambah jenis kendaraan.
Menhub Dudy memberikan dukungan
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan dukungannya terhadap rencana Pemprov DKI tersebut. Ia menilai pemerintah daerah memang perlu mempunyai ruang untuk mengembangkan konektivitas sesuai kebutuhan wilayahnya.
Dudy juga membuka kemungkinan kerja sama dengan BUMN. Menurutnya, strategi bisnis dapat dirancang oleh pemerintah daerah melalui perusahaan daerah atau bersama badan usaha milik negara.
Fokus utamanya adalah memastikan kebutuhan konektivitas masyarakat dapat terpenuhi. Karena itu, Kementerian Perhubungan tidak mempersoalkan bentuk kolaborasi selama pengembangan tersebut tetap mendukung konektivitas transportasi.
Dukungan tersebut menunjukkan adanya peluang koordinasi lebih erat antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI. Namun, implementasi tetap harus mengikuti aturan masing-masing sektor transportasi.
Transportasi laut menjadi tahap yang sudah mulai disiapkan
Ekspansi Transjakarta ke sektor laut bukan sepenuhnya gagasan baru. Pemprov DKI sebelumnya telah menyiapkan pengalihan pengelolaan layanan kapal menuju Kepulauan Seribu kepada Transjakarta.
Pada Agustus 2026, Transjakarta bersama Dinas Perhubungan DKI meninjau sejumlah wilayah Kepulauan Seribu. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut penugasan untuk mengintegrasikan transportasi darat dan laut.
Empat pulau yang dikunjungi dalam kegiatan tersebut adalah Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan.
Pengalihan pengelolaan kapal diarahkan untuk menciptakan sistem layanan yang lebih terintegrasi. Masyarakat Kepulauan Seribu nantinya dapat memperoleh layanan transportasi yang terhubung dengan sistem Transjakarta.
Integrasi Kepulauan Seribu menjadi perhatian
Kepulauan Seribu memiliki karakter transportasi yang berbeda dengan wilayah daratan Jakarta. Mobilitas masyarakat membutuhkan kombinasi antara transportasi laut dan darat.
Karena itu, integrasi layanan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi Jakarta. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kapal untuk menuju daratan.
Mereka juga membutuhkan koneksi lanjutan menuju pusat aktivitas. Sistem yang terintegrasi dapat menghubungkan perjalanan laut dengan bus dan moda transportasi lain.
Transjakarta sebelumnya juga sudah berperan dalam konektivitas menuju simpul transportasi laut. Perusahaan mengaktifkan layanan tertentu untuk mendukung mobilitas masyarakat menuju pelabuhan.
Layanan udara masuk dalam ruang lingkup baru
Hal yang cukup menarik dari rencana ini adalah masuknya sektor udara. Pemprov DKI membuka kemungkinan Transjakarta mempunyai ruang usaha dalam layanan transportasi udara.
Namun, detail bentuk layanan tersebut belum ditetapkan. Rencana tersebut masih berada dalam kerangka perluasan ruang lingkup usaha perusahaan.
Artinya, belum ada kepastian bahwa Transjakarta akan menjadi operator maskapai penerbangan. Layanan yang berkaitan dengan transportasi udara dapat mencakup berbagai bentuk sarana pendukung dan konektivitas.
Pemerintah perlu menentukan model bisnis secara hati-hati. Sektor penerbangan mempunyai regulasi, standar keselamatan, serta kebutuhan investasi yang berbeda dari transportasi bus.
Konsepnya mengarah pada transportasi multimoda
Jika rencana tersebut berjalan, Transjakarta dapat berkembang menjadi perusahaan dengan cakupan transportasi yang lebih luas. Layanan darat dapat terhubung dengan moda laut dan udara dalam satu ekosistem.
Konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan kota besar yang mempunyai banyak simpul mobilitas. Penumpang membutuhkan perpindahan antarmoda yang mudah.
Contohnya adalah perjalanan dari pusat Jakarta menuju pelabuhan atau bandara. Transjakarta dapat berperan sebagai bagian dari perjalanan tersebut.
Kementerian Perhubungan sebelumnya juga mendorong pengembangan konektivitas antarmoda di Jakarta. Salah satunya melalui pengembangan TOD Stasiun Sudirman yang menghubungkan KRL, LRT Jakarta, Kereta Bandara, LRT Jabodebek, MRT, dan Transjakarta.
Transjakarta sudah memiliki basis pelanggan besar
Perluasan bisnis juga didukung skala layanan Transjakarta yang sudah besar. Pada 2025, perusahaan mencatat 413 juta pelanggan atau sekitar 1,4 juta perjalanan per hari.
Data tersebut menunjukkan Transjakarta sudah mempunyai basis pengguna yang luas. Perusahaan juga terus memperluas integrasi dengan moda transportasi lain.
Pengalaman tersebut dapat menjadi modal dalam membangun layanan multimoda. Transjakarta sudah terbiasa mengelola jaringan rute, halte, pelanggan, serta koordinasi dengan operator transportasi lain.
Namun, ekspansi ke sektor baru membutuhkan kompetensi tambahan. Transportasi laut dan udara mempunyai aspek keselamatan dan operasional yang sangat berbeda.
Pengalaman integrasi dengan bandara sudah berjalan
Transjakarta juga sudah mempunyai pengalaman dalam menghubungkan Jakarta dengan transportasi udara. Salah satunya melalui rute SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta.
Selama periode 13 hingga 25 Maret 2026, rute tersebut melayani 18.943 pelanggan. Layanan itu menjadi salah satu upaya Pemprov DKI memperkuat akses langsung dari pusat kota menuju bandara.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai kebutuhan transportasi menuju simpul penerbangan. Namun, mengelola konektivitas menuju bandara berbeda dengan mengoperasikan layanan penerbangan.
Karena itu, bentuk ekspansi yang dipilih akan menentukan kebutuhan investasi dan sumber daya perusahaan.
Kolaborasi dengan BUMN menjadi salah satu opsi
Menhub Dudy juga menyebut pemerintah daerah dapat menggandeng BUMN dalam pengembangan transportasi. Opsi tersebut dapat membuka peluang kolaborasi antara Transjakarta dengan perusahaan yang sudah mempunyai pengalaman di sektor tertentu.
Model kerja sama dapat digunakan untuk membangun konektivitas tanpa harus membuat seluruh kemampuan baru dari awal. Pemerintah daerah tetap dapat mempertahankan peran strategis melalui BUMD.
Kolaborasi juga dapat mempercepat integrasi layanan. Namun, struktur kerja sama harus dibuat dengan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Aspek keselamatan, investasi, tarif, pelayanan, dan pengawasan perlu ditentukan sebelum layanan baru dijalankan.
Modal Transjakarta direncanakan diperkuat
Perluasan ruang usaha tentu membutuhkan kemampuan finansial yang lebih besar. Dalam rencana perubahan bentuk badan usaha, Pemprov DKI juga menyiapkan peningkatan modal dasar Transjakarta.
Laporan mengenai rancangan tersebut menyebut modal dasar perusahaan direncanakan meningkat dari sekitar Rp5,225 triliun menjadi Rp13,4 triliun melalui tambahan penyertaan modal.
Tambahan kapasitas modal dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan usaha baru. Namun, kebutuhan investasi akan bergantung pada bentuk ekspansi yang akhirnya disetujui.
Transportasi laut membutuhkan kapal, dermaga, fasilitas keselamatan, dan sistem operasional. Sementara itu, layanan udara mempunyai kebutuhan infrastruktur dan sertifikasi yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, peningkatan modal perlu disertai kajian bisnis yang terukur.
Rencana masih membutuhkan aturan dan kajian lanjutan
Meski dukungan dari Menhub sudah disampaikan, ekspansi Transjakarta belum berarti seluruh layanan laut dan udara akan langsung beroperasi. Raperda perubahan ruang lingkup usaha masih menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Pemprov DKI juga perlu menyusun model bisnis dan pembagian kewenangan. Setiap moda mempunyai regulator serta standar keselamatan masing-masing.
Pemerintah pusat sendiri sedang mendorong penguatan koordinasi transportasi melalui pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Transportasi Nasional. Dudy menyebut regulasi tersebut diharapkan dapat membuat kebijakan konektivitas lebih tertata.
Dengan perkembangan tersebut, ekspansi Transjakarta berpotensi mengubah peran perusahaan dari operator bus menjadi bagian dari ekosistem transportasi multimoda Jakarta. Tahap berikutnya akan bergantung pada pembahasan regulasi, model bisnis, kesiapan modal, serta bentuk layanan laut dan udara yang akhirnya dipilih.
Ekspansi Transjakarta ke laut membutuhkan persiapan berbeda
Rencana ekspansi Transjakarta ke sektor laut membawa kebutuhan operasional yang berbeda dari layanan bus. Perusahaan harus menyiapkan armada kapal, fasilitas sandar, sistem tiket, serta prosedur keselamatan penumpang.
Karakter perjalanan masyarakat Kepulauan Seribu juga tidak sama dengan perjalanan di daratan Jakarta. Kondisi cuaca dan gelombang dapat memengaruhi jadwal pelayaran.
Karena itu, ekspansi Transjakarta ke laut membutuhkan koordinasi erat dengan regulator transportasi laut. Jadwal layanan juga perlu disesuaikan dengan kondisi operasional di lapangan.
Pengelolaan rute harus mempertimbangkan kebutuhan warga. Kapal tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi, tetapi juga menjadi penghubung antara pulau permukiman dan pusat aktivitas.
Integrasi kapal dan bus menjadi bagian penting
Salah satu manfaat yang dapat dikembangkan adalah integrasi perjalanan laut dengan bus Transjakarta. Penumpang dari Kepulauan Seribu dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat setelah tiba di Jakarta.
Integrasi tersebut membutuhkan jadwal yang saling terhubung. Waktu tunggu yang terlalu panjang dapat mengurangi kenyamanan penumpang.
Sistem tiket juga dapat dikembangkan secara bertahap. Penumpang dapat memperoleh pengalaman perjalanan yang lebih sederhana jika pembayaran dan informasi rute tersedia dalam satu ekosistem.
Namun, integrasi tidak hanya berkaitan dengan tiket. Informasi keberangkatan, lokasi transit, tarif, serta kondisi layanan juga harus mudah diakses.
Transportasi udara mempunyai tantangan lebih kompleks
Ekspansi Transjakarta ke sektor udara membutuhkan kajian yang lebih mendalam. Transportasi penerbangan mempunyai standar keselamatan dan regulasi yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, masuknya sektor udara dalam ruang lingkup usaha tidak otomatis berarti Transjakarta akan menjadi operator pesawat. Bentuk usaha yang dapat dikembangkan masih membutuhkan keputusan lebih lanjut.
Transjakarta dapat berperan dalam sisi konektivitas menuju bandara. Pengalaman melalui rute menuju Bandara Soekarno-Hatta dapat menjadi salah satu dasar pengembangan layanan.
Perusahaan juga dapat berkolaborasi dengan operator penerbangan atau pengelola bandara. Model tersebut memungkinkan Transjakarta tetap fokus pada fungsi konektivitas darat.
Bandara dapat menjadi simpul integrasi
Jakarta mempunyai beberapa simpul transportasi penting yang terhubung dengan aktivitas penerbangan. Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu tujuan perjalanan masyarakat dari dan menuju ibu kota.
Transjakarta sudah mempunyai pengalaman menyediakan layanan menuju bandara. Pengembangan berikutnya dapat diarahkan pada peningkatan konektivitas antara halte, terminal, stasiun, dan bandara.
Integrasi tersebut dapat membantu penumpang yang membawa barang dalam jumlah besar. Informasi perjalanan juga dapat dibuat lebih sederhana melalui aplikasi dan sistem digital.
Konektivitas menuju bandara semakin penting ketika mobilitas masyarakat meningkat. Perjalanan bisnis, wisata, dan kebutuhan lainnya membutuhkan akses yang mudah menuju simpul penerbangan.
Kolaborasi dengan BUMN dapat mempercepat pengembangan
Menhub Dudy membuka ruang bagi kerja sama antara Pemprov DKI dan BUMN. Pilihan tersebut dapat membantu Transjakarta mendapatkan pengalaman dari perusahaan yang sudah bergerak di sektor transportasi tertentu.
Kolaborasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Untuk transportasi laut, mitra dapat mempunyai pengalaman dalam pengoperasian kapal dan fasilitas pelabuhan.
Sementara itu, sektor udara dapat melibatkan perusahaan yang mempunyai pengalaman dalam pengelolaan bandara atau konektivitas penerbangan.
Model tersebut dapat mengurangi kebutuhan untuk membangun seluruh kemampuan secara mandiri. Namun, struktur kerja sama tetap harus mempunyai pembagian tanggung jawab yang jelas.
Modal besar harus diikuti perhitungan bisnis
Rencana peningkatan modal Transjakarta memberikan ruang untuk ekspansi. Namun, modal yang lebih besar juga perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat terukur.
Transportasi laut membutuhkan biaya pengadaan dan pemeliharaan kapal. Ada pula biaya bahan bakar, awak kapal, fasilitas keselamatan, serta perawatan dermaga.
Sektor udara mempunyai kebutuhan investasi yang berbeda. Jika ekspansi dilakukan melalui kerja sama, struktur pembiayaan dan pembagian risiko harus ditentukan sejak awal.
Karena itu, setiap proyek baru perlu melewati kajian kelayakan. Pemerintah harus mengetahui kebutuhan investasi, proyeksi pendapatan, biaya operasional, dan manfaat bagi masyarakat.
Tarif menjadi persoalan yang perlu dibahas
Perluasan layanan juga akan memunculkan pertanyaan mengenai tarif. Tarif bus Transjakarta selama ini mempunyai karakter layanan publik.
Transportasi laut dan udara mempunyai struktur biaya yang berbeda. Biaya operasional kapal jauh lebih besar dibandingkan sejumlah layanan bus.
Pemerintah perlu menentukan apakah layanan baru akan menggunakan skema tarif publik, komersial, atau kombinasi keduanya. Kebijakan tersebut akan memengaruhi kemampuan masyarakat mengakses layanan.
Khusus untuk Kepulauan Seribu, aspek keterjangkauan menjadi penting. Transportasi merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan.
Keselamatan harus menjadi prioritas operasional
Setiap moda mempunyai standar keselamatan masing-masing. Perluasan Transjakarta ke laut membuat perusahaan harus memperkuat kompetensi terkait keselamatan pelayaran.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang harus dipantau. Sistem informasi cuaca dan prosedur penghentian perjalanan harus tersedia.
Untuk layanan yang berhubungan dengan penerbangan, standar keselamatan akan semakin ketat. Karena itu, Transjakarta membutuhkan tenaga profesional dan sistem manajemen yang sesuai.
Pengalaman sebagai operator bus menjadi modal awal. Namun, kompetensi tersebut tidak otomatis dapat diterapkan pada moda lain.
Digitalisasi dapat menyatukan berbagai moda
Salah satu peluang terbesar dari ekspansi adalah membangun ekosistem transportasi digital. Penumpang dapat memperoleh informasi perjalanan melalui satu platform.
Aplikasi dapat menampilkan jadwal bus, kapal, serta koneksi menuju bandara. Sistem juga dapat memberikan informasi ketika terjadi perubahan jadwal.
Ke depan, integrasi pembayaran dapat membuat perjalanan multimoda menjadi lebih sederhana. Penumpang tidak perlu memahami terlalu banyak sistem berbeda.
Data perjalanan juga dapat membantu pemerintah mengetahui pola mobilitas masyarakat. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki jadwal dan rute.
Kepulauan Seribu menjadi proyek penting
Wilayah Kepulauan Seribu dapat menjadi salah satu tempat pertama untuk melihat penerapan integrasi darat dan laut. Penugasan kepada Transjakarta untuk mendukung layanan kapal memberikan peluang bagi perusahaan memperluas pengalaman.
Empat pulau yang sebelumnya ditinjau bersama Dinas Perhubungan DKI adalah Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan.
Pengalaman dari wilayah tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan transportasi laut. Pemerintah dapat melihat jumlah penumpang, pola perjalanan, kebutuhan armada, serta biaya operasional.
Jika sistem berjalan baik, konsep tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Namun, setiap perluasan tetap perlu mempertimbangkan karakter geografis dan kebutuhan masyarakat.
Ekspansi Transjakarta dapat mengubah model bisnis perusahaan
Selama ini Transjakarta dikenal sebagai operator transportasi bus. Perubahan ruang lingkup usaha dapat membuat perusahaan mempunyai peran yang lebih luas dalam ekosistem transportasi.
Perusahaan dapat terlibat dalam pengelolaan sarana transportasi, konektivitas laut, serta layanan yang berkaitan dengan transportasi udara.
Perubahan tersebut dapat membuka peluang pendapatan baru. Namun, ekspansi juga membuat tanggung jawab perusahaan semakin besar.
Manajemen harus memastikan setiap lini bisnis mempunyai standar operasional yang jelas. Pemisahan fungsi dan pengawasan juga penting agar ekspansi tidak mengganggu layanan utama.
Regulasi akan menentukan bentuk akhir ekspansi
Rencana tersebut masih membutuhkan proses regulasi. Rancangan perubahan bentuk badan usaha harus melalui pembahasan antara Pemprov DKI dan DPRD DKI.
Setelah kerangka usaha ditetapkan, pemerintah masih harus menyusun aturan teknis. Setiap sektor transportasi mempunyai regulasi tersendiri.
Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan menjadi penting agar pengembangan tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan. Perizinan dan standar keselamatan juga harus dipenuhi sebelum layanan dijalankan.
Dengan demikian, dukungan Menhub Dudy menjadi salah satu sinyal positif bagi rencana tersebut. Namun, implementasinya tetap membutuhkan tahapan yang panjang.
Transjakarta berpeluang menjadi penghubung transportasi Jakarta
Jika seluruh rencana terealisasi, Transjakarta dapat berkembang dari operator bus menjadi salah satu penghubung transportasi multimoda Jakarta.
Bus dapat terhubung dengan kapal dan simpul penerbangan. Penumpang juga dapat menggunakan sistem informasi dan pembayaran yang semakin terintegrasi.
Namun, keberhasilan ekspansi Transjakarta akan bergantung pada kualitas perencanaan. Perusahaan harus memastikan layanan baru tetap efisien dan tidak mengurangi kualitas layanan yang sudah berjalan.
Kepulauan Seribu dapat menjadi salah satu tahap awal untuk menguji integrasi transportasi laut. Sementara itu, sektor udara membutuhkan kajian lebih panjang karena regulasinya lebih kompleks.
Pada akhirnya, perluasan tersebut akan ditentukan oleh hasil pembahasan regulasi, kesiapan modal, model kerja sama, serta kebutuhan mobilitas masyarakat. Dukungan pemerintah pusat dan daerah menjadi modal penting, tetapi penerapan di lapangan tetap membutuhkan perencanaan yang matang.




