Kemarau Memanjang, Tujuh Wilayah Sumsel Masuk Status Awas Kekeringan Musim kering di Sumatera Selatan semakin terasa memasuki September 2026. Hujan yang minim dalam waktu panjang membuat sejumlah daerah mengalami kekeringan meteorologis serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menempatkan tujuh kabupaten pada kategori awas dalam peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian pertama September 2026.
Tujuh wilayah tersebut adalah Penukal Abab Lematang Ilir atau PALI, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu Timur, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, serta Muara Enim. Pada peringatan yang diperbarui 31 Agustus 2026 itu, Kota Palembang dan Kota Prabumulih berada pada tingkat siaga. Sementara Musi Rawas, Empat Lawang, Lahat, dan Lubuk Linggau masuk kelompok waspada.
Keadaan kering tersebut bukan hanya terlihat dari klasifikasi peringatan dini. Pemantauan BMKG hingga 10 September memperlihatkan sebagian besar Sumatera Selatan telah mengalami hari tanpa hujan selama 31 sampai 60 hari. Beberapa lokasi bahkan melewati 60 hari tanpa hujan, dengan catatan terpanjang mencapai 81 hari di Pos Hujan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir.
Status Awas Tidak Berarti Seluruh Kabupaten Kering Total
Penyebutan awas perlu dipahami dengan tepat. Status tersebut merupakan bagian dari sistem peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG. Penilaian didasarkan pada keadaan hujan dan lamanya suatu wilayah tidak menerima hujan dalam jumlah yang berarti.
Karena pemantauan dilakukan berdasarkan pos hujan dan wilayah klimatologis, keadaan dalam satu kabupaten tidak selalu seragam. Sebagian kecamatan dapat mengalami kekeringan ekstrem, sedangkan bagian lain masih menerima hujan lokal.
Hal tersebut terlihat dalam pemutakhiran 10 September. Kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari ditemukan di sebagian Ogan Ilir bagian tengah hingga selatan, sebagian OKU Timur, serta sebagian kecil Musi Banyuasin, PALI, Banyuasin, Muara Enim, OKI, dan OKU.
Dengan demikian, istilah tujuh wilayah berstatus awas tidak dapat diterjemahkan bahwa setiap desa di tujuh kabupaten mengalami keadaan sama buruknya. Peta kekeringan harus dibaca hingga skala wilayah yang lebih kecil sebelum menentukan kebutuhan air, pertanian, atau penanganan kebakaran.
Status tersebut juga berbeda dari penetapan siaga darurat bencana oleh pemerintah daerah. Peringatan BMKG berhubungan dengan keadaan iklim, sedangkan status kedaruratan daerah ditentukan pemerintah berdasarkan risiko bencana serta kesiapan penanganan.
Menurut penulis, perbedaan istilah ini penting agar masyarakat tidak panik, tetapi juga tidak menganggap peringatan awas sebagai informasi biasa. Data tersebut merupakan tanda bahwa persediaan air dan kelembapan lahan perlu dijaga lebih ketat.
Ogan Ilir Mencatat 81 Hari Tanpa Hujan
Ogan Ilir menjadi salah satu wilayah yang paling menonjol dalam pemantauan BMKG. Pos Hujan Muara Kuang mencatat hari tanpa hujan terpanjang mencapai 81 hari berdasarkan pembaruan hingga 10 September 2026.
Catatan itu meningkat dibandingkan pemantauan akhir Agustus. Pada 31 Agustus, Muara Kuang telah mengalami 71 hari tanpa hujan. Sepuluh hari kemudian, periode tersebut terus bertambah karena belum ada hujan yang cukup untuk memutus rangkaian hari kering.
Hari tanpa hujan atau HTH tidak sekadar menunjukkan cuaca panas. Semakin panjang waktunya, kandungan air pada lapisan tanah atas dapat menurun, tumbuhan lebih cepat kehilangan kelembapan, saluran kecil menyusut, dan kebutuhan penyiraman pertanian meningkat.
Lahan gambut menghadapi persoalan lebih rumit. Ketika air turun terlalu jauh, lapisan organik menjadi mudah terbakar. Api dapat bergerak di bawah permukaan sehingga bagian atas terlihat padam, tetapi panas masih bertahan di dalam tanah.
Ogan Ilir memang termasuk salah satu wilayah yang selama musim kering mendapat perhatian karena keberadaan lahan gambut dan riwayat kebakaran. Pemerintah Sumatera Selatan juga menempatkan wilayah sekitar perbatasan Ogan Ilir dan Palembang sebagai salah satu area yang membutuhkan kesiapsiagaan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Seluruh Sumsel Hanya Menerima Hujan Rendah pada Awal September
Data BMKG memperlihatkan keadaan kering tidak hanya terjadi pada kabupaten yang masuk kategori awas. Selama dasarian pertama September, seluruh wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori curah hujan rendah, yaitu antara nol sampai 50 milimeter.
Tidak ada wilayah yang tercatat menerima curah hujan menengah, tinggi, maupun sangat tinggi. Curah hujan tertinggi hanya 39 milimeter dan tercatat di Pos Hujan Gunung Dempo, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kota Pagar Alam.
BMKG juga mencatat sifat hujan di seluruh Sumatera Selatan berada di bawah normal. Artinya, jumlah hujan yang turun lebih sedikit daripada keadaan klimatologis yang biasa terjadi pada periode yang sama.
Keadaan ini melanjutkan pola pada akhir Agustus. Pada dasarian ketiga Agustus, seluruh wilayah Sumatera Selatan juga menerima hujan rendah antara nol sampai 50 milimeter. Sebagian besar daerah saat itu sudah memasuki HTH sangat panjang antara 31 sampai 60 hari.
Akumulasi inilah yang membuat September menjadi periode penting. Tanah tidak hanya menghadapi sepuluh hari kering, tetapi telah melalui beberapa pekan dengan hujan sangat terbatas.
Hujan Rendah Diperkirakan Bertahan
Peluang terjadinya hujan dalam jumlah besar juga masih kecil. Prediksi BMKG yang diperbarui pada 10 September menunjukkan seluruh Sumatera Selatan mempunyai peluang lebih dari 80 persen menerima curah hujan rendah pada dasarian kedua September.
Curah hujan rendah yang dimaksud berada pada kisaran nol sampai 50 milimeter dalam satu dasarian. Hanya Musi Rawas Utara bagian barat dan Musi Rawas bagian barat yang mempunyai peluang hingga 20 persen untuk menerima hujan pada kategori menengah.
Keadaan serupa diperkirakan berlanjut pada dasarian ketiga September. Sebagian besar Sumatera Selatan masih mempunyai peluang lebih dari 80 persen mengalami hujan rendah.
Sejumlah daerah bagian barat mempunyai peluang lebih besar memperoleh hujan menengah, antara lain Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Lubuk Linggau, bagian barat Musi Banyuasin, bagian barat PALI, serta bagian barat dan selatan Muara Enim.
Pagar Alam, sebagian Lahat, Empat Lawang, OKU, dan OKU Selatan juga memiliki peluang tertentu mendapatkan hujan menengah. Namun, BMKG belum melihat peluang curah hujan tinggi maupun sangat tinggi dalam periode tersebut.
Hujan lokal tetap dapat muncul di tengah musim kering. Turunnya hujan selama beberapa jam juga tidak otomatis mengakhiri kekeringan apabila jumlah airnya terlalu sedikit untuk mengisi kembali tanah, kolam, saluran, dan lapisan gambut.
El Nino Sangat Kuat Ikut Membuat Sumsel Mengering
Kondisi atmosfer regional dan global ikut memengaruhi rendahnya hujan di Sumatera Selatan. Dalam laporan 31 Agustus, BMKG mencatat suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 menunjukkan kejadian El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Nilai anomali suhu permukaan laut secara dasarian tercatat positif 2,99 derajat Celsius, sedangkan nilai bulanannya positif 2,19 derajat Celsius. Pada saat bersamaan, tutupan awan di Indonesia secara umum lebih sedikit dibandingkan kondisi klimatologis.
El Nino dapat mengurangi pembentukan hujan di sejumlah wilayah Indonesia karena pusat pertumbuhan awan bergeser. Pengaruhnya tidak identik di setiap daerah, tetapi Sumatera Selatan pada periode ini menerima hujan jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan normal.
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau Sumatera Selatan berlangsung pada Agustus sampai September. Pada akhir Juli, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis menyebut musim kering diperkirakan bertahan sampai sekitar pertengahan Oktober, sementara hujan yang sesekali turun belum tentu cukup untuk menghentikan kemunculan titik panas.
Informasi tersebut menjelaskan mengapa kewaspadaan masih diperlukan meski kalender telah memasuki pertengahan September. Pergantian bulan belum otomatis membawa perubahan keadaan cuaca.
Kebakaran Lahan Menjadi Ancaman Serius
Kekeringan panjang meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap api. Rumput, semak, sisa tanaman, dan lapisan gambut yang kehilangan air lebih mudah terbakar ketika terkena sumber panas.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 1.926,23 hektare berdasarkan pembaruan 3 September 2026. Pemantauan sejumlah satelit juga menemukan 92 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, serta 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.
BNPB menempatkan OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin sebagai wilayah prioritas tinggi penanganan. Muara Enim, OKU Timur, Ogan Ilir, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara berada pada kelompok berikutnya yang membutuhkan perhatian.
Daftar tersebut bertumpang tindih dengan wilayah yang masuk status awas kekeringan. Hubungannya mudah dipahami. Lahan yang semakin kering menyediakan bahan bakar yang lebih mudah terbakar, sedangkan terbatasnya sumber air menyulitkan kegiatan pemadaman.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru pada 9 September menyebut lahan terbakar di provinsi tersebut telah mencapai sekitar 1.926,2 hektare. Menurut pemerintah provinsi, sekitar 80 persen area terbakar merupakan lahan terbengkalai.
Pemerintah Sumsel juga telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan sejak 22 April sampai 30 November 2026. Langkah tersebut memungkinkan kesiapan personel dan peralatan dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Asap Mulai Mengganggu Kualitas Udara
Persoalan kemarau bukan hanya berhubungan dengan ketersediaan air dan kebakaran. Asap dari lahan terbakar dapat bergerak mengikuti angin dan menurunkan kualitas udara di wilayah yang tidak berada tepat di lokasi api.
Pada awal September, kualitas udara Palembang sempat masuk kategori sangat tidak sehat seiring kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Sumatera Selatan. Kondisi tersebut membuat masyarakat dengan gangguan pernapasan, anak, lansia, dan kelompok rentan perlu mengurangi paparan udara luar ketika konsentrasi partikel meningkat.
Partikel halus dari asap dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain mata perih, tenggorokan tidak nyaman, batuk, sesak, serta kekambuhan penyakit pada orang yang memiliki asma atau gangguan paru.
Pemerintah provinsi telah meminta pelayanan kesehatan diperkuat di wilayah yang menghadapi kabut asap. Herman Deru bahkan meminta layanan kesehatan dapat tersedia selama 24 jam apabila situasi mengharuskannya.
Menurut penulis, keberhasilan menghadapi kemarau tidak cukup dihitung dari jumlah api yang berhasil dipadamkan. Pemerintah juga perlu memastikan warga memperoleh air, udara yang lebih aman, layanan kesehatan, dan informasi yang cepat ketika keadaan memburuk.
Pertanian Mulai Membutuhkan Pengaturan Air Lebih Ketat
Kemarau berkepanjangan membuat sektor pertanian harus lebih hati hati dalam menggunakan persediaan air. Sawah tadah hujan menjadi kelompok yang paling bergantung pada turunnya hujan karena tidak mempunyai jaringan irigasi sepanjang tahun.
Tanaman yang berada pada fase awal membutuhkan kelembapan cukup agar akar berkembang. Kekurangan air berkepanjangan dapat membuat pertumbuhan melambat, daun mengering, serta hasil panen berkurang apabila tidak tersedia sumber pengairan tambahan.
Petani perlu memperhatikan informasi dari dinas pertanian dan pengelola irigasi sebelum menanam. Jadwal tanam pada wilayah dengan sumber air terbatas tidak dapat disamakan dengan kawasan yang mempunyai waduk, sungai besar, atau saluran teknis.
Penggunaan pompa dari sungai atau sumur juga memerlukan perhitungan. Pengambilan berlebihan ketika debit sedang rendah dapat memicu persaingan kebutuhan antara pertanian dan rumah tangga.
Ketersediaan air minum untuk ternak tidak kalah penting. Peternak perlu memastikan bak dan sumber air tetap tersedia, terutama ketika suhu siang tinggi dan hewan membutuhkan lebih banyak cairan.
Air Bersih Perlu Dijaga Sebelum Sumber Mulai Menyusut
Pemerintah kabupaten yang masuk kategori awas perlu memetakan desa dengan sumber air paling rentan. Sumur dangkal, mata air kecil, dan embung dapat menunjukkan penurunan lebih awal ketika HTH telah berlangsung puluhan hari.
Distribusi menggunakan mobil tangki sebaiknya ditempatkan sebagai langkah terakhir ketika sumber lokal tidak lagi mencukupi. Penanganan yang lebih awal dapat dilakukan melalui pengaturan pemakaian, pengisian tempat penampungan, perbaikan kebocoran jaringan, serta perlindungan sumber yang masih tersedia.
Masyarakat juga dapat membantu dengan mengurangi pemakaian air yang tidak diperlukan. Mencuci kendaraan terlalu sering, membiarkan keran bocor, atau menggunakan air bersih untuk membersihkan halaman dalam jumlah besar dapat mempercepat habisnya persediaan.
Penyimpanan air tetap harus menjaga kebersihan. Wadah perlu tertutup agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk atau tercemar kotoran. Air untuk konsumsi harus dipisahkan dari air yang digunakan untuk mencuci atau menyiram tanaman.
Membakar Sampah Menjadi Lebih Berbahaya
Pada periode kering, api kecil dapat berubah menjadi kebakaran luas dalam waktu singkat. Membakar sampah di halaman, membersihkan kebun dengan api, atau meninggalkan puntung rokok di lahan kering menjadi tindakan berisiko tinggi.
Api yang tampak sudah padam dapat menyisakan bara. Pada tanah gambut, panas bahkan dapat bergerak di bawah permukaan dan muncul kembali beberapa meter dari titik awal.
Masyarakat di wilayah PALI, Musi Banyuasin, OKU Timur, Banyuasin, Ogan Ilir, OKI, dan Muara Enim perlu memperhatikan aturan daerah terkait penggunaan api. Laporan mengenai asap atau kebakaran kecil sebaiknya disampaikan sebelum areanya melebar.
Pemerintah juga perlu meningkatkan patroli pada lahan terbengkalai. Temuan pemerintah provinsi bahwa sebagian besar kawasan terbakar merupakan lahan yang tidak aktif menunjukkan perlunya kejelasan mengenai pihak yang wajib menjaga bidang tersebut.
Korporasi pemegang konsesi mempunyai tanggung jawab menjaga wilayah kerjanya dari kebakaran sesuai ketentuan yang berlaku. Gubernur Sumsel telah meminta tindakan tegas terhadap badan usaha yang terbukti melanggar.
September Menjadi Periode yang Masih Harus Diawasi Ketat
Pemantauan 10 September memperlihatkan kekeringan belum berakhir. Sebagian besar Sumatera Selatan masih berada pada kategori HTH sangat panjang, sedangkan beberapa lokasi telah melampaui 60 hari.
Prakiraan BMKG juga belum menunjukkan perubahan besar dalam waktu dekat. Dasarian kedua September memiliki peluang lebih dari 80 persen mengalami hujan rendah di seluruh provinsi, sementara dasarian ketiga masih didominasi peluang hujan rendah pada sebagian besar wilayah.
Keadaan dapat berubah apabila sistem atmosfer pembentuk hujan mulai aktif. Karena itu, peta HTH, prakiraan dasarian, titik panas, kualitas udara, dan tinggi muka air perlu diperbarui secara berkala.
Tujuh daerah yang tercatat pada kategori awas dalam peringatan awal September menjadi wilayah yang perlu memperoleh perhatian lebih besar. Namun, daerah di luar tujuh kabupaten tersebut tetap tidak dapat mengendurkan kewaspadaan karena kekeringan sangat panjang telah meluas ke sebagian besar Sumatera Selatan.
Air rumah tangga, pertanian, lahan gambut, kesehatan, serta pencegahan kebakaran kini saling berkaitan. Semakin lama hujan rendah bertahan, semakin penting bagi pemerintah daerah untuk mengarahkan sumber daya pada desa yang paling kering, menjaga titik air, memperkuat patroli, dan memastikan laporan kebakaran dapat ditangani sebelum api meluas.





